Modal Nekad, 3 Serangkai menuju Merbabu, Central Java
Pendakian kali ini menceritakan tentang perjalanan 3 perjaka yg ingin mendaki ke gunung merbabu. Namun, dengan budget pas2an dan dengan modal rute perjalanan yg hanya membaca dari blog. Karena saya bertiga tidak ada yg pernah ke sana.
H-1 saya mencari persewaan tenda karena pada saat itu saya belom ada tenda, akhirnya dapet tenda dengan harga GRATIIIIS!, lumayan uangnya jadi bisa buat yg lain. Sebelom berangkat, biasa saya ngumpul di warkop tempat kita bertiga nongkrong dengan fasilitas wifi gratis sambil membaca ulang tentang tips dan rute perjalanan menuju merbabu. Ada salah satu teman saya sebut saja namana “joss” dia sama sekali tidak pernah mendaki, dan dia tidak yakin untuk jadi berangkat. Saya dan teman saya yang juga pernah mendaki namanya “blontang” sudah yakin dan di warung sudah membawa perlatan lengkap untuk mendaki dan ngebet banget ke merbabu sampai dikira pemilik warung mau minggat haha. Saya dan blontang pun merayu joss agar jadi ke Merbabu. Dengan raut wajah terpaksa joss pun jadi ikut ke Merbabu *Koprol dulu lah*. Saya dan blontang mengantar joss untuk pulang mengambil perbekalan dan meminta izin ke orang tuanya. Sampai di rumahnya, joss ditanyai sama bapaknya
Bapak: Jange nang ndi? ( Mau ke mana?)
Joss: Merbabu
Bapak: endi iku? (Mana itu?)
Joss: jawa tengah
Bapak: Gendeeeng. Lapo rono? (Gilaaa ngapain ke sana?)
Saya: ke gunung pak
Bapak: awas loh akeh wong jahat (awas banyak orang jahat)
Saya: ada poternya kok pak yg jaga dan ngantar. Sambil bicara dalam hati “maafkan pak saya bohong” maklum kan orang jujur sayanya.
Bapak: yowes ati2 loh. Pirang dino? ( yaudah hati2 loh. Berapa hari?)
Saya: 3 hari pak.
Setalah joss selesai berkemas kita ber3 “ berangkat pak, Assalamualaikum”
Kebetulan rumah joss dekat dengan jl raya bypass. Menunggu bus andalan tercepat di jawa timur yaitu Sugeng Rahayu. Tak disangka saat kita naik, ada sepasang bule di dalam bus sumber kencono ini. Mungkin si bule juga pengen ngirit dan pengen merasakan sensasi kecepatan bus ini. Tak lama saya diperjalanan, kondektur bus menghampiri saya untuk memberikan tiket.
Kondektur: turun mana mas?
Joss: Tirtonadi Solo pak, KL. (KL adalah kartu langganan, dengan kartu tersebut kita bisa mendapatkan potongan harga)
Joss memberikan uangnya untuk kita 3 orang penumpang. Sebenernya sih joss tidak punya KL, karena kata joss kondektur tidak pernah check kartunya. #janganditiru
Akhirnya sampai di Terminal Tirtonadi subuh. Terminal ini desainnya sangat bagus, modern banget. Sebelum lanjut perjalanan, sholat dulu, istirahat, makan gorengan, minum the anget beeeh mantap jayaa…
Karena bingung mau ke merbabu naik apa, saya memutuskan untuk bertanya kepada petugas terminal. Untuk ke merbabu saya 3x oper kendaraan. Kendaraan terakhir kita naik dari pasar tradisional, dan perjalanannya barengan sama ibuk2 yg habis dari pasar. Lumayan macam2 baunya di dalem mobil.
Sampai di pemberhentian kendaraan terakhir. Ada 3 pilihan untuk menuju ke pos pendakian.
1. Ojek
2. Jalan kaki
3. Pintu doraemon
Kita memilih untuk jalan kaki, kan kita 3 laki fearless minum extraboss HAHAHA padahal ya maksudnya ngirit biaya
Lumayan capek jalan menuju pos pendakian, namum pemandangan sangat Indah. Oh iya hampir lupa cerita kalo saya lewat jalur pendakian SELO. Kalau lewat selo tidak ada tempat untuk sumber air. Terakhir ambil air ya di pos perijian itu. Sampai di pos saya beli makan dulu lah biaf kuat liat dia bahagia sama orang lain.
Langsunh saja pendakian dimulai, jalurnya ga seberapa terjal sih, namun panjang banget. Santai tapi lama nyampenya. Banyak sabana, ada sabana 1, sabana 2, sabana 3 dll. Anginnya kenceng bangeg di sabana. Di sabana 2 sayaistirahat dan bertemu sama pendaki laki2 dari jakarta lalu saya bertanya
Saya: sendirian mas?
Jakarta: engga mas itu sama anak2 di bawah
Saya: oh iya mas. Saya menawarkan rokok agar lebih akrab. Eh saya malah ditawarinbalik.
Jakarta: mau anak pocong mas?
Saya: apa itu?
Jakarta: Ijo mas
Saya: *berpikir (wah ganja nih). Engga mas saya ga pake gituan. Eh cowok jakarta itu malah ketawa -_-.
Saat itu waktu menunjukkan 06.30 dan angin kenceng banget. Si joss hampir menyerah untuk melanjutkan perjalanan. Istirahat lama dingin, kalo lanjut si joss masih capek, SERBA SALAH. Kelupaan lagi saya ga bawa penerang seperti headlamp, alhasil berkali kali terpleset dah.
Saya putuskan untuk ngecamp di sabana 3, kebetulan di sabana 3 ada tempat kosong di bawah pohon. Dirikan tenda, rebus air, bikin teh anget, rebus mie, sulut rokok, Sempurna hidup saya HAHA. Pertanyaan: di rumah dimasakin enak2, kenapa minggat malah makan mie aja? Gitu kenapa seneng banget? Hmmm
Udah kenyang, tidur lah kita ber 3. Lagi2 si joss berulah, dia menggigil kedinginan saya pun terbangun dan menjadikan sleepingbag saya selimut untuk saya dan joss daripada terjadi hal2 yg tidak diinginkan. Hoaaam lanjut tidur.
Matahari muncul saya membangunkan teman2 untuk lanjut perjalanan. Namun metrka ber 2 tidak ada yg mau melanjutkan perjalanannya. Payaaaah! Kalau saya lanjut sendiri juga ga enak hmmm. Akhirnya kita hanya di sabana 3, foto2 lalu pulang. Sampai di pos perijinan istirahat dulu, makan, ngopi, turun lagi untuk ke pemberhentian kendaraan terakhir. Dan ternyata sudah tidak ada angkutan umum yg lewat karena saat itu sudah jam 04.00. Kita pun bingung lalu saya lihat ada Polsek dan ada pal polisi yg lagi duduk di depan kantornya. Saya mencoba bertanya untuk memastikan kendaraan.
Ternyata benar sudah tidak ada angkutan umum lagi yg lewat. Oleh seorang pak polisi tersebut kita disewakan mobil bak terbuka pengangkut sayur untuk mengantarkan ke terminal boyolali. Sesampainya di terminal, supir mobil yg saya sewa bernama Pak Nardi ikut menunggu saya dan teman2 hingga mendapatkan bus. Karena pak Nardi khawatir dengan kita. Akhirnya kita mendapatkan bis untuk kembali ke terminal tirtonadi Solo.
Dari solo, langsung naik bis andalan Sugeng Rahayu sampai ke kota kelahiran.
Duduk, dan lagi2 menggunakan KL abal2 haha (kepepet). Usai membayar karcis, tidurlah kita semua sampai daerah asal kita Krian.
Sekian cerita pendakian kita ke Merbabu. Ingin rasanya saya mendaki kembali ke gunung tersebut karena keindahan alamnya dan orang2nya.
Terima kasih untuk Allah Subhanahu wa taalla. Semoga kita masih diberi sehat agar tetep bisa jalan2, dan nulis lagiiiiii
Jumat, 09 Desember 2016
Jumat, 25 November 2016
Perkenalan Pendakian Pertama Penanggungan Mountain, Trawas, Mojokerto East Java
Halo para Pendamba Alam. Salam Lestari 💃
Perkenalkan nama aku Gen Faid Nafier Rachman, mahasiswa semester 11 di salah satu universisitas yg ada di surabaya. Tua banget ya semester 11 wkwk. akibat pas semester muda saya pecandu (pecandu traveling). Alhasil molor sampai semester 11.
Cukuplah dikit aja introduce me myselfnya.
langsung aja ke topik utama! Yuhuuuu
Pendakian Gunung Penannggungan via Tamiajeng
sebelum naik ke gunung yang lain, aku mencoba nggunung ke penanggungan karena lokasinya yg tidak jauh dari rumah dan puncaknya tidak seberapa tinggi.
gunung penanggungan berasa di antara 2 kabupaten yaitiu di kabupaten Mojokerto, dan kabupaten Pasuruan, provinsi Jawa Timur dan ada di negara INDONESIA vrooh! yiiihaa... #alay Meskipun gunung Penanggungan setinggi 1.653mdpl namun treknya lumayan nyakitin untuk pemula. Untuk cowok pemula disarankan gak ngajak "dedek gemes" untuk nggunung ke penanggungan. kalau mau tetep ngajak silahkan sedia logistik berupa "sabar". karena dijamin si dedek gemes bakalan sedikit berubah mood ketika pendakian.
Pendaki yg menggunakan motor bisa parkir kendaraan di warung Bu Indah di pos pendakian tamiajeng. tarif per motor pada saat itu 5rb, tiket pendakian 8rb. murah meriah untuk menikmati pesona alam.
Pendakian dimulai!
Berdoa menurut agama masing2! Berdoa dimulai! Selesai!
Awal perjalanan setelah pos perijinan, para pendaki akan banyak bertemu para petani sekitar yg membawa celurit (Horor banget) tapi ternyata setelah saya mencoba menyapa.
Gen: Monggo pak. aku menyapa dengan senyum manis namun fake smile karena sedikit takut dengan bawaan mereka wkwkw selain itu sepi banget, dan aku hanya berdua dengan teman saya. Tapi ternyata mereka sangat ramah dengan para pendaki. Care banget. Si bapak betani pun membalas sapaanku "iya nak hati2, pelan2 aja jangan tergesah-gesah. Lega dah hati dan pikiran saya 😁.
Setelah beberapa menit perjalanan saya memutusakan untuk berhenti untuk beristirahat. Ambil rokok, tenggak air mineral, foto2 dikit, lanjut perjalanan. Untuk para pendaki yg mau nge-camp usahakan sedia banyak air karena jalur pendakian via tamiajeng tidak ada sumber air. Untuk yg via jolotundo terdapat sumber air yg bernama "sumber tetek" para pendaki menyebutnya seperti itu karena air yg dikeluarkan dari tetek patung wanita. JANGAN PIKIRAN KOTOR MBLO!
Lanjut perjalanan lagi, supaya ga bosen perjalanan aku dokumentasikan melalui video dan foto. Sambil ku bertanya ke teman saya "masih jauh mas puncak bayangan?" puncak bayangan merupakan dataran lumayan luas untuk mendirikan tenda. "Dikit lagi gen" jawab teman saya. Eh sambil terus berjalan berjalan terus terus teruuss, akhirnya sampailah di Puncak Bayangan yg dibilang dikit lagi tadi.
Dirikan tenda, jangan lupa seduh kopi biar tenang. makanan andalan yg sering dibawa adalah mi instan wkwk. Selesai makan, ngopi2 ganteng tidur jaga konsisi buat persiapan muncak.
Bangun pagi, seperti biasa seduh kopi. prepare, bongkar tenda, dan siap gass puncak.
Dari puncak bayangan ke puncak pawitra membutuhkan waktu 30-1jam. track mulai semakin curam berbatu. dari puncak bayangan sudah kelihatan puncak pawitra. itulah yg membuat semangat berjalan. saat perjalanan sering ada bebatuan yg menggelinding dari atas. Seorang pendaki di atas berteriak "awas batuuuu" (kayak di film "5cm di atas lutut" aja tuh wkwk) *di jaga pikirannya jangan ngeres mulu*. Saya dan teman saya pun menepi dari jalur pendakian yg dilewati batu. Di tengah perjalanan dari puncak bayangan menuju puncak pawitra terdapat spot buat foto yg kece yaitu batu gede segede punya mantan km (mobil mantan km maksudnya). Kalo pas rame bisa sampe antre kayak antre sembako foto di spot itu. Beruntung pas aku ke sana sepi jadi ga perlu antre.
Lanjut perjalanan akhirnya sampailah di puncak pawitra gunung Penanggungan 1653mdpl. Tak lupa abadikan di plakat bertuliskan puncak buat upload di IG atau sosmed yg lain hoho.
Dari puncak terlihat puncak bayangan yg berhias warna warni tenda para pendaki.
Cukup puas menikmati puncak, aku dan temanku memtuskan untuk turun tanpa nge-camp lagi di puncak bayangan.
Ditunggu ya next cerita dari aku. Jangan kotori alam, jaga dan rawat seperti km menjaga dan merawat pacarmu!
More photos lets visit and follow my Instagram @genoneeye
instagram.com/genoneeye
More photos lets visit and follow my Instagram @genoneeye
instagram.com/genoneeye
Langganan:
Postingan (Atom)





